Iklan

Iklan

,

Iklan

Rajus Bimbin: Paramisi Tercipta dari Filosofi Adat Budaya Yang Akarnya Kuat

Redaksi
24 Jan 2024, 12:01 WIB Last Updated 2024-01-24T07:55:36Z

Rajus Bimbin,ST,MH (Londong Bassi Bulawan) ,Pemerhati budaya Toraja .

 


RANTEPAO,TORAJAKUNEWS.COM-Pemerhati Budaya Toraja ,Rajus Bimbin,ST,MH angkat bicara terkait budaya, khususnya paramisi bulangan Londong yang dilakukan oleh masyarakat Toraja usai Adat Rambu Solo' (kedukaan) sebagai pelengkap adat budaya tersebut.


Disebutkan bahwa adat paramisi yang dulu dilaksanakan oleh leluhur kita dan paramisi yang dilakukan saat ini,itu sangat jauh berbeda, bahkan sudah melenceng dari yang sesungguhnya.


"Paramisi yang dulu itu memang ada izin, dibuktikan dengan adanya surat izin yang dikeluarkan oleh aparat pemerintah daerah terkait dan untuk pembayaran pajak itu, diambil dari beberapa ayam alias sepaknya (paha ayam) " ,kata Rajus Bimbin ,Rabu ,24 Januari 2024 .



Paramisi saat ini ,menurut Rajus Bimbin, fenomena paramisi yang disampaikan oleh masyarakat saat ini adalah bukan paramisi lagi karena tidak ada izin.Dan pembayarannya itu, konon katanya perhari yang ditentukan oleh pihak-pihak terkait yang mengambil keuntungan dalam perhelatan budaya ini.Sehingga kesimpulan, dulu dikatakan paramisi varian pertambahan budaya,sekarang bukan paramisi tapi namanya Dispensasi.


"Dispensasi tidak diusir, tidak dikejar dan tidak di bubarkan.Kenapa ,karena kalau di bayar perhari itu adat, tapi kalau tidak dibayar bukan adat, tetap di bubarkan.Jadi bagaimana penataannya sehingga paramisi ini kalau memang harus ditata maka legitimasi hukumlah yang harus ditata kedepannya.Dan memang ini bukan pekerjaan kecil,dan bukan pekerjaan gampang, dibutuhkan personal figur yang mampu menjembatani membahas antara keinginan dan kebutuhan jaman, baik dari pihak Gereja maupun pihak rohaniawan juga dari pihak pelaku dan budayawan ", Ungkap Rajus Bimbin yang akrab dengan sebutan Londong Bassi Bulawan ini .


Selain itu,Rajus Bimbin juga menyampaikan bahwa jika para pihak terkait sudah menemukan titik temu sehingga penataan kebudayaan kita ini memang sangatlah penting.Kalaupun memang paramisi itu tetap ada,minimalisasi keberadaan dan pelaksanaannya. Kalaupun dilaksanakan paramisinya ,itu memberikan legitimasinya pada orang yang benar dan tepat .Bukan macam sekarang perempuan di pa'paramisian ,orang yang mati sehari di paramisian,pesta pernikahan di pa'paramisian, katanya paramisi .


"Semua yang disebutkan Paramisi saat ini ,kalau saya menyebutnya Dispensasi.Kalau yang sebenarnya yang dibulangan londongngi adalah lahir dari tatanan sosial yang kuat, filosofinya yang kuat .Bulangan Londong itu lahir dari strata sosial yang layak memang diberikan.Dan melakukan sumbangan bulo', sumbangan bulo' ini minimal kurban yang di berikan strata aluknya itu 24 ekor kerbau keatas kalau tidak salah tapi yang pastinya 25 ekor kerbau dan minimal 17 Ekor kerbau". 


"Dan yang diberikan sumbangan bulo' itu hanya laki-laki bukan perempuan,dan sekarang dispensasi ini juga diberikan kepada perempuan.Terus rapasan yang dilakukan sehingga legitimasi itu diberikan kepada orang yang tepat ketika kita melakukan ritual penambahan paramisi itu ", Jelas Rajus Bimbin yang tak lain Caleg DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Dapil 10 nomor urut 4 dari Partai Hanura .


Ditambahkan Rajus Bimbin,Bahwa Paramisi bulangan Londong ini bukan mau menghapus atau menghilangkan varian budaya adat , tetapi ditata sehingga pihak-pihak yang melakukan kebudayaan adat itu, adalah orang yang benar-benar terlegitimasi secara adat dan budaya itu ,kuat secara filosofinya ,kuat secara sosialnya dan kita bisa mengeliminir dampak-dampak sporadis secara pertumbuhanyang tidak mengarah kepada filosofi yang benar . Sehingga varian Tedong silaga ini benar-benar bisa hadir dijadikan varian perkembangan adat yang menciptakan pertumbuhan pariwisata di Toraja yang tercipta dari filosofi adat budaya yang akarnya kuat .


"Dari pihak-pihak yang dalam kepentingan ini, baik dari pihak rohaniawan, aparat-aparat disesuaikan karena dalam penataan itu apa kepentingan freepik yang bisa diambil . Karena tambahan varian budaya ini tidak terlalu bombastis , tidak terlalu banyak dan bisa di filter sehingga teman-teman aparat bisa mengambil varian budaya itu secara tidak fulgar,tidak menyalahi aturan", pungkas Rajus Bimbin admin group FB Kampanye Virtual Pemimpin Masyarakat Torut PS 2024.(*)

Iklan